Ratulafinah – Bau cat masih terasa ketika memasuki rumah Tompel Simamora di Pekon Semara Jaya, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat.
Bangunan itu sebenarnya belum lama berdiri.
Dua tahun lalu, Tompel kehilangan rumah sekaligus tempatnya mencari nafkah setelah kebakaran melalap habis bangunan tersebut. Dengan segala keterbatasan, ia kembali mengumpulkan tenaga dan biaya untuk membangun rumah sekaligus bengkel dari awal.
Namun, ketika luka akibat kebakaran belum sepenuhnya hilang, masalah baru datang.
Bukan api.
Melainkan getaran yang setiap hari terasa dari lalu lalang kendaraan berat proyek geothermal.
Dinding rumah yang masih tampak baru itu mulai dihiasi garis-garis retakan tipis.
Di ruang tamu terdapat retak rambut. Dua kamar tidur anaknya juga mulai menunjukkan garis serupa. Bagian luar tiang kolom beton dan lantai semen rabat tak luput dari retakan.
Warga yang ikut melihat kondisi bangunan itu menyebut sedikitnya terdapat enam titik retakan.
Retakan tersebut memang belum membuat rumah Tompel roboh. Tetapi bagi keluarga yang baru saja membangun kembali rumahnya dari puing-puing kebakaran, setiap garis retak di dinding menjadi sumber kekhawatiran.
Setiap kali suara kendaraan berat terdengar dari jalan depan rumah, rasa cemas kembali muncul.
Tompel bukan satu-satunya.
Beberapa kilometer dari rumahnya, di Pekon Sri Menanti, Kecamatan Air Hitam, kondisi serupa dialami Alpian Ansori.
Bedanya, kerusakan rumah Alpian terlihat lebih parah.
Fondasi beton bagian luar rumahnya terbelah secara vertikal. Dinding batako mengalami patahan. Sebagian lantai juga terlihat mengalami penurunan.
Rumah tersebut berdiri hanya sekitar 1,5 hingga 5 meter dari bibir jalan yang kini menjadi jalur kendaraan proyek.
“Fondasi saya belah. Padahal baru saja dibangun. Ini hasil kerja keras kami sekeluarga,” kata Alpian, Jumat (7/8/2026).
Suara Alpian terdengar pelan ketika menceritakan kondisi rumahnya.
Baginya, rumah tersebut bukan sekadar bangunan.
Di balik tembok yang retak itu ada tabungan bertahun-tahun dan kerja keras keluarganya.
Yang membuatnya semakin terpukul, kerusakan rumahnya justru membuat sebagian orang menilai bangunan tersebut dibangun dengan kualitas buruk.
“Banyak yang mencemooh saya. Bilang bangunannya jelek. Tapi itulah kemampuan saya sebagai rakyat kecil. Beda dengan mereka yang punya modal lebih,” ujarnya.
Alpian mengaku tidak menolak keberadaan proyek pembangunan.
Yang ia persoalkan adalah dampak yang harus ditanggung warga yang rumahnya berada di sepanjang jalur kendaraan berat.
Bukan Hanya Rumah yang Retak
Keluhan warga di sekitar jalur proyek PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) ternyata tidak berhenti pada persoalan kerusakan bangunan.
Debu menjadi bagian dari keseharian warga.
Kendaraan proyek yang melintas membuat debu beterbangan, terutama ketika kondisi jalan kering. Rumah-rumah warga yang berada sangat dekat dengan badan jalan ikut terkena dampaknya.
Di sisi lain, warga juga mengeluhkan kondisi jalan yang mengalami kerusakan akibat tingginya aktivitas kendaraan berat.
Jalan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat kini harus berbagi ruang dengan kendaraan logistik proyek berukuran besar.
Persoalan lain yang turut menjadi sorotan warga adalah dugaan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk aktivitas kendaraan proyek.
Isu tersebut menambah panjang daftar keresahan masyarakat di sekitar wilayah operasional proyek.
Di tengah berbagai persoalan itu, muncul pula pertanyaan mengenai aktivitas proyek yang berada di kawasan yang memiliki nilai ekologis dan konservasi tinggi.
Kawasan hutan di sekitar Suoh-Sekincau menjadi perhatian karena memiliki kekayaan alam dan ekosistem yang harus dijaga.
Warga juga mempertanyakan berbagai aspek perizinan, termasuk status izin Persetujuan Penetapan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) serta persoalan perizinan lain yang berkaitan dengan aktivitas proyek.
Selain itu, muncul pula sorotan mengenai status kawasan yang berkaitan dengan usulan atau proses pengakuan sebagai bagian dari warisan dunia UNESCO.
Berbagai persoalan tersebut membuat masyarakat meminta agar seluruh aktivitas proyek diperiksa secara terbuka dan menyeluruh.
Warga Tak Ingin Investasi Dibayar dengan Kerusakan Rumah
Bagi warga seperti Tompel dan Alpian, persoalan ini sebenarnya sederhana.
Mereka tidak ingin menghentikan pembangunan.
Mereka juga tidak ingin menghalangi investasi dan aktivitas geothermal yang disebut membawa manfaat bagi pembangunan energi.
Tetapi mereka ingin rumah, keselamatan, dan lingkungan tempat mereka hidup tetap terlindungi.
Sebab bagi masyarakat kecil, rumah bukan sekadar aset.
Rumah adalah tempat anak-anak tidur, tempat keluarga berkumpul, sekaligus hasil dari kerja keras bertahun-tahun.
Ketika dindingnya mulai retak, yang muncul bukan hanya kerugian materi.
Ada rasa takut.
Takut retakan semakin lebar. Takut kerusakan bertambah parah. Takut suatu hari rumah yang dibangun dengan susah payah tidak lagi aman untuk ditempati.
Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bersama manajemen PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau turun langsung melakukan pemeriksaan.
Bukan sekadar melihat retakan dari kejauhan.
Warga meminta dilakukan pengukuran getaran secara ilmiah, pemeriksaan kondisi struktur bangunan, evaluasi kapasitas jalan dan tonase kendaraan, pengaturan jam operasional kendaraan berat, hingga memastikan seluruh aspek perizinan dan perlindungan lingkungan dipenuhi.
Jika memang kerusakan rumah terbukti berkaitan dengan aktivitas kendaraan proyek, warga juga berharap ada mekanisme perbaikan dan kompensasi yang adil.
Sebab pembangunan seharusnya tidak membuat masyarakat yang tinggal di sekitarnya merasa menjadi korban.
Di Pekon Semara Jaya, Tompel masih menjalani hari-harinya di rumah yang baru kembali dibangun.
Di Pekon Sri Menanti, Alpian masih melihat fondasi rumahnya yang terbelah.
Sementara setiap hari, kendaraan berat terus melintas di depan rumah mereka.
Suara mesin dan hentakan roda menjadi pengingat bahwa persoalan itu belum selesai.
Dan bagi mereka, setiap retakan baru di dinding bukan sekadar garis di tembok.
Itu adalah kekhawatiran tentang masa depan rumah dan keluarga mereka.

Tinggalkan Balasan